top of page

Dust in theWind

Updated: Nov 17, 2020


jikalau kamu tidak pernah melihatku, tapi aku melihatmu.

andaikan tidak pernah ada temu.

anggap saja dirimu adalah peristiwa sejarah yang paling hafal kurapal dalam ruang kedap suara. hadirku hanya sebagai butiran debu. menikmati semua tentangmu hanya dalam bayang semu, tidak boleh menaruh karsa maupun rasa.

tentang kamu yang begitu paripurna, aku jatuh cinta pada untaian ujung rambut hitam mu. aku ingin semalam saja terdampar bersama gemerlap bintang hanya untuk mengenang rekaman suasana kala itu. kau duduk di bawah pinus rindang, di atas tanah berumput basah sendirian, bergelayut dengan sejuta warna kala senja, dan anggap saja tak ada aku disana. rambutmu diusap lembut oleh angin, itu tanganku dalam wujud doa.

tentang senyum yang cemerlang, mengukir cekungan selayaknya sabit rembulan mungil di antara kedua pipimu. sedang aku, menikmati dari dekat dan menyembunyikan malu sebagai debu meja kayu melihatmu tersenyum dan duduk di kursi ruang tamu. struktur tanganmu itu, kulihat sejuta alur takdir yang entah ada namaku padanya disana atau tidak. jikalau aku debu yang tak sengaja singgah di punggung tanganmu, bisakah untuk sehari saja aku berbicara denganmu untuk menyimpan memoriku pada amigdala mu, tak apa jikalau hanya satu kalimat, kusebut nama lengkapmu dengan yakin dalam nafas satu-satu.

milaku, katamu.

sekali lagi, tidak boleh lagi menaruh karsa maupun rasa seperti maumu.

Comments


fitri
kamila

© 2018 by Fitri Kamila

  • White RSS Icon
  • White Facebook Icon
  • White Instagram Icon
  • White Tumblr Icon
bottom of page